HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Monthly archive for March 2014

Tesis – Potensi Konflik Pengelolaan Sumber Daya Alam Papua

Contoh Tesis MAP Potensi Konflik Pengelolaan  Sumber Daya Alam  Papua (Studi tentang Pengoperasian  PT. BP LNG TANGGUH di Daerah Kepala Burung Propinsi Papua)

Iluatrasi Pertambangan

Iluatrasi Pertambangan

Latar Belakang Penelitian 

Perdebatan yang dilatarbelakangi adanya perbedaan kepentingan tersebut cenderung semakin tajam dan mengarah kepada aktivitas yang apabila tidak disikapi secara arif akan menjurus terjadinya konflik. Konflik dapat terjadi antara kepentingan pemerintah pusat dengan kepentingan pemerintah daerah, atau mungkin terjadi konflik antar pemerintah daerah, dan dapat pula terjadi konflik horisontal antar masyarakat di daerah yang bersangkutan.

Konflik antar rakyat melawan perusahaan pertambangan sebagai pelaksana kebijakan dan eksploitasi sumber daya alam dari pemerintah pusat banyak terjadi di beberapa daerah yang mempunyai sumber daya alam yang besar. Sebagai contoh berikut disajikan beberapa konflik yang terjadi di daerah; di Provinsi Riau terjadi konflik antara PT. Caltex Indonesia dengan penduduk Suku Sakai yang merasa bahwa hak-hak mereka diabaikan dan mereka masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangannya

 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang sebagaimana telah diuraikan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana  peta  konflik dalam pengelolaan sumber daya alam LNG Tangguh di  daerah Kepala   Burung Provinsi Papua?
  2. Upaya-upaya apakah yang perlu dilakukan untuk meminimalisir kemunculan konflik tersebut?

 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

  1. Mendiskripsikan potensi-potensi konflik dalam pengelolaan sumber daya alam LNG Tangguh di daerah Kepala Burung Provinsi Papua
  2. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam pengembangan kerjasama antar daerah dalam rangka meminimalisir kemunculan konflik.

Kesimpulan

Pembahasan tentang peta potensi konflik dan langkah-langkah untuk meminimalkan konflik di Daerah Kepala Burung menghasilkan beberapa kesimpulan berikut.

1. Pertama, peta potensi konflik lebih banyak didominasi oleh kepemilikan hak atas tanah yang belum diakui secara penuh oleh pemerintah ataupun oleh BP Tangguh. Hal ini dibuktikan dengan sikap pemerintah yang tidak sepenuhnya melibatkan suku-suku pemilik tanah adat dalam proses pengambilan keputusan BP Tangguh.  Meskipun sebagian kompensasi dan komitmen pemerintah maupun BP Tangguh telah dirasakan oleh masyarakat, tetapi trauma atas pola pengelolaan sumber daya alam di tanah Papua masih menghantui masyarakat. Ini ditunjukkan dengan persepsi masyarakat yang cenderung negatif terhadap kehadiran perusahaan-perusahaan pertambangan atau pengolahan hasil hutan.  Kasus PT Freeport selalu menjadi referensi masyarakat yang membuktikan buruknya perlakuan perusahaan dan pemerintah terhadap masyarakat Papua, khususnya yang mempunyai hak ulayat atas lokasi yang dijadikan daerah penambangan.

  • Lokasi eksplorasi dan eksploitasi LNG Tangguh yang tersebar di berbagai daerah otonom yaitu di Manokwari, Sorong Selatan dan Teluk Bintuni mengharuskan masing-masing pemerintah daerah untuk saling berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun dengan pihak BP Tangguh. Strategi Penyebaran dan Pemerataan Pertumbuhan atau biasa disebut dengan SP3 menunjukkan adanya komitmen pemerintah dan pihak BP Tangguh dalam mengembangkan dan memberdayakan masyarakat di sekitar pertambangan.
  • Terdapat empat pola konflik yang menyertai beroperasinya BP Tangguh yaitu konflik sebagai efek dari pelaksanaan desentralisasi pemerintahan, konflik antar masyarakat,  efek konflik sebelumnya yang terjadi antara institusi dan masyarakat, serta konflik sebagai efek dari tidak adanya kerjasama yang melibatkan seluruh komponen.
  • Meskipun SP3 dirumuskan dan dibentuk untuk menciptakan kawasan pertumbuhan yang bersifat komplementer antara daerah satu dengan daerah lainnya, tidak berarti membolehkan terjadinya pelanggaran atas hak terhadap tanah adat yang justru oleh undang-undang diakui keberadaannya. Karena itu, dalam sikap pemerintah yang tidak akomodatif terhadap aspirasi masyarakat Papua hanya akan menambah potensi konflik antara masyarakat dan pemerintah maupun antara masyarakat dan BP Tangguh.

2. Kedua, upaya-upaya untuk meminimalkan konflik harus dilakukan secara simultan dan bersama-sama antara pemerintah, BP Tangguh, masyarakat adat setempat, dan LSM-LSM yang selama ini memberikan pendampingan dan menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan pembelaan.  Minimalisasi konflik dengan cara membangun kesamaan persepsi di antara semua pihak yang terlibat menjadi kebutuhan yang mendesak untuk dilakukan di semua tingkatan, baik di tingkat desa yang terpengaruh langsung terhadap proyek BP Tangguh, marga, ataupun suku-suku, distrik, ataupun  pemerintah daerah.

Persepsi bersama harus diarahkan pada satu komitmen untuk tumbuh bersama dalam kerangka yang jelas, terukur, dan transparan sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari salah satu pihak.  Meskipun proses pengambilan keputusan akan berjalan ulet dan lama, keterlibatan masyarakat dalam setiap proses pengambilan keputusan yang berkaitan langsung dengan tanah adat  akan lebih menjamin kelangsungan dan stabilitas keamanan proyek-proyek pembangunan ataupun LNG Tangguh khususnya

Peran Dewan Sekolah Smp Negeri 1 Piyungan Di Kabupaten Bantul

Contoh Tesis MAP Peran Dewan Sekolah Smp Negeri 1 Piyungan Di Kabupaten Bantul

Sosialisasi Sekolah

Sosialisasi Sekolah

Latar Belakang Tesis :

Pergeseran pengelolaan sekolah dari sentralistik birokratis yang sudah diterapkan selama puluhan tahun kepada pemberian otonomi lebih besar kepada sekolah yang melibatkan partisipasi masyarakat memang tidak mudah diterapkan. Hal ini dikarenakan perubahan tersebut menyangkut perubahan paradigma, yaitu dari paradigma sentralisasi ke paradigma desentralisasi. Selama ini isu desentralisasi umumnya dimaknai sebagai isu devolusi kekuasaan atau kewenangan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun sebenarnya titik berat desentralisasi dan otonomi daerah tidak hanya pada isu kepentingan dan ketegangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, namun juga harus dimaknai sebagai isu devolusi kekuasaan atau kewenangan dari negara (state) kepada masyarakat. Pemaknaan yang terakhir tersebut, merupakan penerjemahan atas paradigma “pembangunan yang berpusat pada rakyat” (people-centered development) sebagai pembaharuan atas paradigma pembangunan sebelumnya yang selalu dikendalikan secara ketat oleh birokrasi pemerintah (Nasikun, 2002).

Dunia pendidikan merupakan salah satu bidang yang tidak luput dari cakupan paradigma desentralisasi tersebut, karena salah satu faktor yang ditengarai sebagai penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah pengelolaan yang sentralistis. Dalam pemaksaan desentralisasi sebagai devolusi kekuasaan atau kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, dengan lainnya Undang – Undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah, maka pendidikan merupakan salah satu tanggung jawab yang diserahkan kepada pemerintah daerah, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Pemberian otonomi tersebut merupakan beban yang tidak ringan, sehingga harus diwaspadai agar pendidikan harus tetap terjaga mutunya dan mampu menjawab berbagai tantangan perkembangan yang mutakhir.

Perumusan Masalah 

Sebagai lembaga yang relatif baru yang “diperkenalkan” oleh pemerintah, adalah sulit mengharapkan Dewan Sekolah tersebut bisa langsung berperan sebagaimana yang diharapkan. Banyaknya berita “miring” di media massa mengenai Dewan Sekolah, mengindikasikan bahwa lembaga ini masih jauh dari harapan dalam menjalankan perannya. Oleh karena itu menjadi menarik untuk mengkaji peran  Dewan Sekolah sejauh ini. Apabila Dewan Sekolahyang ada ternyata belum mampu melaksanakan perannya dengan benar, berarti harapan adanya pengelolaan pendidikan yang berbasis pada sekolah dan berbasis pada masyarakat belum dapat diwujudkan.

Berdasarkan latar belakang tersebut, dengan mengambil comtoh salah satu sekolah menengah tingkat pertama di Kabupaten Bantul maka permasalahan yang bisa diajukan dalam kajian ini adalah :

  1. Bagaimana aspek internal organisasi, yakni: struktur organisasi dan perencanaan, tanggung jawab, komunikasi serta partisipasi dari anggota dan stakeholders dalam pelaksanaan peran dewan sekolah SMP negeri 1 Piyungan di Kabupaten Bantul?
  2. Seberapa jauh konteks organisasi (manajemen sekolah, kebijakan pemerintah kabupaten, kebijakan dewan sekolah dan partisipasi LSM) memberikan dukungan bagi pelaksanaan peran dewan sekolah SMP Negeri 1 Piyungan di Kabupaten Bantul?

 Tujuan Penelitian 

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Menggambarkan pelaksanaan peran Dewan Sekolah pada SMP Negeri 1 Piyungan melalui beberapa unsur/aspek internal organisasi : struktur organisasi dan perencanaan, tanggungjawab, komunikasi serta partisipasi dari anggota stakeholders.
  2. Memahami seberapa jauh konteks organisasi (aspek eksternal) yang meliputi: manajemen sekolah, kebijakan pemerintah kabupaten, kebijakan dewan sekolah dan partisipasi dari LSM dalam memberikan dukungan bagi pelaksanaan peran Dewan Sekolah SMP Negeri 1 Piyungan.

 Kesimpulan 

Dari berbagai uraian mengenai peran Dewan Sekolah SMP Negeri 1 Piyungan,  dapat diambila beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. dengan menggunakan peran manajer yang dikembangkan oleh Henry Mintzberg, dapat dikatakan bahwa Dewan sekolah SMP Negeri 1 Piyungan telah melaksanakan peran hubungan antarpribadi (interpersonal role), peran yang berhubungan dengan informasi (informational role), dan peran pembuat keputusan (decision role), meskipun belum optimal. Pelaksanaan peran hubungan antar pribadi ditunjukan dngan kehadiran anggota Dewan Sekolah pada acara-acara yang diselenggarakan oleh sekolah maupun organisasi lain. Dengan menghadiri berbagai acara tersebut dan kegiatan khusus Dewan Sekolah, Dewan Sekolah sekaligus melaksanakan peran yang berkaitan dengan informasi, baik sebagai monitor, disseminator maupun juru bicara. Dewan Sekolah juga melaksanakan peran sebagi pembuat keputusan, yang biasanya dilakukan melalui rapat pleno dan rapat koordinasi Dewan sekolah yang kemudian dilaksanakan baik oleh Dewan Sekolah sendiri maupun oleh Kepala Sekolah. Apabila dilihat dengan menggunakan indukator kinerja Dewan Sekolah yang dirumuskan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Dewan Sekolah SMP Negeri 1 Piyungan juga sudah melaksanakan peran sebagai badan pertimbangan, badan pendukung, badan pengontrol dan sebagai mediator. Akan tetapi pelaksanaan peran dimaksud masih terbatas pada peningkatan sarana dan prasarana, pembahasan dan pengesahan RAPBS, mobilitasi dana dari masyarakat khususnya dari orang tua murid, pengelolaan anggaran, serta proses belajar-mengajar secara umum. Sedangkan untuk hal-hal yang lebih mendasar seperti mengidentifikasi sumber daya pendidikan yang ada di masyarakat dan memobilitasinya ke sekolah, memberikan kualitas kebijakan di sekolah dan mengontrol proses perencanaan pendidikan di sekolah belum dilaksanakan.
  2. Sebagian aspek internal organisasi Dewan Sekolah SMP Negeri 1 Piyungan, yakni: a) struktur organisasi dan perencanaan; b) komunikasi; c) partisipasi; dan d) tanggung jawab (akuntabilitas, responsibilitas dan responsivitas) sebagian sudah berjalan dengan baik, tetapi sebagian lagi belum.
    • Dewan Sekolah SMP Negeri 1 Piyungan mempunyai struktur organisasi yang sederhana dan dalam pelaksanaanya cenderung menggunakan struktur matrik dan bersifat ad hoc sesuai kebutuhan. Penggunaan struktur ini lebih fleksibel, karena bisa disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi dan lebih sesuai dengan kondisi anggota Dewan Sekolah yang masing-masing mempunyai aktivitas utama di luar jabatannya sebagai anggota Dewan Sekolah. Dalam perencanaan Dewan Sekolah SMP Negeri 1 Piyungan masih lemah, karena belum menyusun perencanaan, baik yang bersifat strategis, perencanaan taktis maupun perencanan operasional. Kegiatan yang dilaksanakan semata-mata merespon tuntutan kebutuhan dari sekolah maupun dari orang tua murid.
    • Komunikasi internal organisasi Dewan Sekolah tidak mengalami hambatan, baik komunikasi vertical maupun horizontal. Sedangkan untuk dimensi komunikasi luar organisasi, Dewan Sekolah melakukan komunikasi dengan pemerintah dan organisasi lain. Komunikasi dengan sekolah sudah berjalan dengan baik, baik melalui rapat koordinasi maupun secara perorangan dan informal, tetapi komunikasi dengan orang tua murid masih kurang, karena baru dilaksanakan dua kali dalam satu tahun dan kurang efektif untuk saling menyampaikan pesan. Kurangnya komunikasi dengan orang tua murid ini terlihat dengan kurangnya pemahaman orang tua murid terhadap peran dewan sekolah dan kesadaran yang masih rendah untuk ikut terlibat dalam pengelolaan pendidikan di sekolah.
    • Rata-rata anggota Dewan Sekolah aktif berpartisipasi dalam kegiatan Dewan Sekolah yang sifatnya formal, seperti pertemuan-pertemuan. Akan tetapi tuntutan partisipasi yang lebih aktif dari dewan sekolah, seperti mensosialisasikan peran Dewan Sekolah kepada masyarakat serta menjaringaspirasi dari masyarakat belum semua anggota Dewan Sekolah aktif melaksanakan. Di sisi lain, partisipasi orang tua murid untuk ikut aktof dalam pengelolaan pendidikan masih sangat rendah.
    • Prinsip akuntabilitas sudah cukup dilaksanakan oleh Dewan Sekolah SMP Negeri 1 Piyungan. Hal ini tercermin dari penyampaian laporan keuangan yang dikelola oleh Dewan Sekolah kepada orang tua murid. Kompetensi tknis yang merupakan salah satu unsur dari responsibilitas ternyata belum dimiliki oleh semua anggota Dewan Sekolah. Hanya sebagian kecil saja dari anggota Dewan Sekolah yang menunjukan kopetensi teknis yang memadai, yang dapat dilihat dari latar belakang pendidikan, pekerjaan maupun pengalaman organisasi dan ditujukkan melalui aktifitasnya sebagai anggota Dewan Sekolah. Namun dalam menjalankan perannya, anggota Dewan Sekolah telah menjunjung nilai-niali etis, seperti keadilan dan keterbukaan sebagai unsur lain dari responsibilitas. Masalah-masalah dan masukan yang disampaikan oleh orang tua murid selalu mendapatkan tanggapan dan tindak lanjut dari Dewan Sekolah. Hal ini menunjukan bahwa Dewan Sekolah cukup responsive, tetapi dengan tingkat pertisipasi dari masyarakat yang masih rendah dan komunikasi yang kurang, Dewan Sekolah belum bisa mengidentifikasi kebutuhan masyarakat secara tepat.

Pengaruh Dimensi-dimensi Kualitas Terhadap Kinerja Organisasional

Contoh Tesis MAP ~ Pengaruh Dimensi-Dimensi Kualitas Terhadap Kinerja Organisasional

Diskusi Antar Pekerja

Diskusi Antar Pekerja

Latar Belakang Skripsi 

Benson, Saraph, dan Schroedor (1991) dalam suatu modekl system structural yang dikemukakan mencoba menghubungkan kualitas organisasional, manajemen kualitas aktual, manajemen kualitas ideal, dan kinerja kualitas. Hasil penelitiannya mengindikasikan bahwa persepsi-persepsi para manajee terhadap manajemen kualitas yang aktual dan yang ideal dipengaruhi oleh konteks kualias organisasional. Konteks ini terdiri dari dukungan korporat untuk kualitas, kinerja kualitas yang lalu, pengetahuan manajerial, dan tingkat permintaan-permintaan kualitas eksternal.

Lebih lanjut, Schlesinger dan Haskett (1991) mengajukan model service profit chainnya. Model ini mengindikasikan bahwa kepuasan pelanggan berakar dalam kepuasan pekerja. Serta, kepuasan pelanggan akan mempengaruhi profit yang akan diperoleh perusahaan. Profit ini merupakan salah satu ukuran keberhasilan kinerja suatu organisasi. Penelitian tersbut didukung oleh penelitian Ostriff (1992) yang menunjukkan bahwa kepuasan dan kesejahteraan pekerja dapat menghasilan efektivitas organisasional melalui perilaku-perilaku yang terkait dari para pekerja.

Rumusan Masalah

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Madu dan Kuei (1995); Madu, Kuei dan Lin (1995); serta Madu, Kuei dan Jacob (1996), dan dengan dikemukakannya beberapa model, maka peneliti bermaksud untuk menguji pengaruh dimensi-dimensi kualitas terhadap kinerja organisasional pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Hal ini dikarenakan pada penelitian-penelitian sebelumnya hanya melihat hubungan antar konstruk-konstruk multivariat dan belum melihat tingkat pengaruh berbagai dimensi tersebut. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengetahui secara empiris sampai seberapa jauh pemahaman para praktisi kualitas di Indonesia tentang pentingnya kualitas bagi keberhasilan organisasi. Berdasarkan pada uraian di atas dapat dirumsuakn masalah sebagai berikut :

  1. Apakah terdapat pengaruh secara signifikan dimensi-dimensi kualitas kepuasan pelanggan, kepuasan pekerja, dan kualitas pelayanan pekerja terhadap kinerja organisasional  pada perusahaan-perusahaan di Indonesia ?
  2. Apakah terdapat pengaruh secara signifikan dimensi-dimensi kualitas terdapat kinerja organisasional pada perusahaan-perusahaan jasa di Indonesia ?
  3. Apakah terdapat pengaruh secara signifikan dimensi-dimensi kualitas terdapat kinerja organisasional pada perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia ?
  4. Apakah terdapat perbedaan pengaruh dalam dimensi-dimensi kualitas terdapat kinerja organisasional antara perusahaan-perusahaan jasa dan perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia ?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

  1. Untuk menguji pengaruh dimensi-dimensi kualitas kepuasan pelanggan, kepuasan pekerja, kualitas pelayanan pekerja terhadap kinerja organisasional pada perusahaan-perusahaan di Indonesia
  2. Untuk menguji pengaruh dimensi-dimensi kualitas terhadap kinerja organisasional pada perusahaan jasa di Indonesia
  3. Untuk menguji pengaruh dimensi-dimensi kualitas terhadp kinerja organisasional pada perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia
  4. Untuk menguji ada tidaknya perbedaan pengaruh dimensi-dimensi kualitas terhadap kinerja organisasional antara perusahaan-perusahaan jasa perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia.

Kesimpulan

Berdasarkan analsisi data yang telah diuraikan pada BAB IV, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memberikan bukti empiris. Meskipun dalamporsi yang kecil, hasil penelitian ini membangu memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang hubungan antara dimensi-dimensi kualitas dan kinerja organisasional.

Penelitian ini menunjukkan bagaimana dimensi-dimensi kualitas memberikan nilai tambah bagi kinerja organisasional. Penelitian ini menemukan bukti empiris yang kuat bahwa dimensi-dimensi kualitas memiliki pengaruh terhadap kinerja organisasional. Meskipun dari dimensi-dimensi kualitas tersebut hanya kepuasan pekerjalah yang dinilai sangat signifikan mempengaruhi kinerja organisasional. Namun kedua dimensi lainnya (kepuasan pelanggan dan kualitas pelayanan pekerja) tidak boleh diabaikan karena kedua dimensi tersebut berkorelasi dengan kinerja organisasional (p < 0.001; p < 0.025).

Incoming search terms:

Kepemimpinan Dan Lingkungan Kerja Terhadap Semangat Kerja Pegawai

Contoh Tesis MAP  ~ Pengaruh Dan Bagaimana Pengaruh Kepemimpinan Dan Lingkungan Kerja Terhadap Semangat Kerja Pegawai Di Sekretariat Daerah Propinsi Sulawesi Utara

 

Salah Satu Kegiatan Yang Dilakukan Untuk Membangkitkan Semangat Pekerja

Salah Satu Kegiatan Yang Dilakukan Untuk Membangkitkan Semangat Pekerja

 

Latar Belakang Tesis  :

Untuk menyelesaikan permasalahan krisis kepercayaan dan tuntutan reformasi masyarakat sekarang ini, maka aparatur pemerintah harus mempunyai semangat kerja yang tinggi di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga tercapai suatu pemerintahan yang berwibawa dan bersaih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Karena apabila pegawai cenderung rendah semangat kerjanya akan memberikan dampak yang tidak baik dan menurunkan prestasi kerja dan produktivitas kerja yang lebih baik, lebih banyak dan lebih cepat untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

Nawawi menyatakan bahwa: “Morale atau semangat kerja yang tinggi atau positif merupakan faktor yang berpengaruh pada sikap berupa kesediaan mewujudkan cara atau metode kerja yang berdaya guna dan berhasil guna dalam meningkatkan prestasi atau produktivitas kerja (1990 : 155).

Permasalan 

Suatu organisasi akan dapat mencapai tujuan atau sebaliknya gagal dalam mencapai tujuannya sangat tergantung pada manusia yang berada dan bekerja di dalam organisasi tersebut. Sekalipun organisasi mempunyai unsur-unsur seperti uang, materi, mesin, metode, waktu dan kekayaan lainnya tidak akan dapat bermanfaat jika manusia tidak dapat memanfaatkan dan memberdayakan unsur-unsur tersebut. Sebaliknya kalau manusia dapat memanfaatkan dan memberdayakan dengan baik unsur-unsur tersebut, maka akan sangat membantu organisasi didalam mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.

Menyadari akan peranan dan kedudukan manusia yang sangat penting dan strategis didalam menentukan keberhasilan organisasi, maka tingkat semangat kerja pegawai yang tinggi sangat diperlukan oleh setiap organisasi untuk mencapai tujuannya. Karena apabila tingkat semangat kerja pegawai rendah, maka kegiatan-kegiatan yang berupa administratif maupun manajemen di dalam organisasi akan berjalan lambat dan bahkan terhenti sama sekali. Oleh sebab itu semangat kerja pegawai sangat dibutuhkan dan. menjadi perhatian untuk ditingkatkan dan dipelihara terus pada setiap organisasi.

Sekretariat Wilayah Daerah Propinsi Sulawesi Utara adalah merupakan salah satu organisasi dari sistem organisasi Pemerintahan Daerah di Sulawesi Utara. Adapun dasar pelaksanaan tugas dari Sekretariat Daerah Propinsi Sulawesi Utara, adalah Peraturan Daerah Propinsi Sulawesi Utara Nomor 2 Talun 1992 tentang Organisasi dan Tatakerja Sekretariat Wilayah Daerah Tingkat I dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Utara. (Menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, istilah Sekretaris Wilayah Daerah Propinsi Daerah Tingkat I diubah menjadi Sekretaris Daerah Propinsi).

Melihat begitu luas, kompleks dan beratnya tugas dan fungsi dari Daerah Propinsi Sulawesi Utara tersebut, maka Pemerintah Daerah  sangat membutuhkan Aparatur Pemerintah yang mempunyai semangat kerja yang di dalam melaksanakan, tugas pokok dan fungsi tersebut secara efektif dan efisien.

Tujuan Penelitian 

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mencari, menghimpun dan menganalisis data empirik guna menerangkan masalah penelitian yang sementara dihadapi.
  2. Untuk mengetahui dan membuktikan ada tidaknya hubungan pengaruh antara variabel-variabel kepemimpinan dari lingkungan kerja terhadap semangat kerja pegawai. Dengan lain perkataan untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
  3. Untuk memenuhi salah satu syarat akademis dalam rangka mengakhiri pendidikan S2 Program Magister Administrasi Publik di Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kesimpulan

Dari hasil analisis statistik yang dilakukan untuk menguji/membuktikan hipotesis penelitian yang diajukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Analisis Korelasi product moment menunjukkan bahwa antara variabel Kepemimpinan dengan Semangat Kerja Pegawai terdapat korelasi sebesar 0,5930. Antara variabel Lingkungan Kerja dengan Semangat Kerja Pegawai terdapat korelasi sebesar 0,6290. Sedangkan antara variabel Kepemimpinan dengan Lingkungan Kerja terdapat korelasi sebesar 0,4980. Dan ketiga hubungan tersebut setelah dikonsultasikan pada nilai tabel product moment adalah signifikan.
  2. Analisis Korelasi Parsial menunjukkan bahwa antara variabel Kepemimpinan­ dengan Semangat Kerja Pegawai terdapat hubungan yang murni walaupun dikontrol variabel Lingkungan Kerja, hubungan tersebut sebesar 0,4147 dan signifikan. Dan antara variabel Lingkungan Kerja dengan semangat Kerja Pegawai terdapat hubungan murni walaupun dikontrol variabel Kepemimpinan, hubungan tersebut sebesar 0,4753 dan hubungan tersebut juga signifikan.
  3. Analisis Korelasi Majemuk menunjukkan bahwa antara variabel Kepemimpinan dan Lingkungan Kerja secara bersama-sama mempunyai hubungan terhadap variabel Semangat Kerja Pegawai sebesar 0,7070 dan signifikan. Jadi kedua variabel bebas tersebut mempunyai kedudukan yang cukup kuat dan positif terhadap Semangat Kerja Pegawai.
  4. Hasil analisis Koefisien Determinasi menunjukkan bahwa kontribusi efektif variabel Kepemimpinan dan Lingkungan Kerja terhadap variabel Semangat Kerja Pegawai sebesar 50,00 %.
  5. Hasil analisis Regresi Berganda menunjukkan bahwa kecenderungan perubahan yang terjadi pada variabel Semangat Kerja Pegawai yang disebabkan oleh setiap perubahan 100% variabel Kepemimpinan adalah sebesar 0,6660. Sedangkan perubahan yang terjadi pada variabel Semangat Kerja Pegawai yang disebabkan oleh setiap perubahan 100% variabel Lingkungan Kerja adalah sebesar 0,4770. Jadi setiap perubahan naiknya variabel Kepemimpinan satu satuan akan mengakibatkan kenaikkan variabel Semangat Kerja Pegawai sebesar 66,60 %. Dan setiap perubahan naiknya variabel Lingkungan Kerja satu satuan akan mengakibatkan kenaikkan variabel Semangat Kerja Pegawai sebesar 47,70%.
  6. Prediksi terhadap hipotesis yang diajukkan adalah cermat dan tepat, karena ternyata standard deviasi variabe, tergantung (SDy) sebesar 14,6971 lebih besar dari standard deviasi error of estimate (SEest) variabel bebas (X) dan variabel tergantung (Y) sebesar 10,5160.

 

 

Incoming search terms:

Akses Publik UMKM Terhadap Fasilitas Kredit Di BRI

Contoh Tesis MAP ~ Akses Publik UMKM Terhadap Fasilitas Kredit Di Bank Rakyat Indonesia

Salah Satu Transaksi Di Bank BRI

Salah Satu Transaksi Di Bank BRI

Latar Belakang Tesis :  

Reformasi ekonomi, politik, sosial-budaya, dan moral, membuka jalan pada reformasi total mengatasi berbagai kesenjangan sosial-ekonomi yang makin merisaukan antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin, antara daerah-daerah yang maju seperti Jawa dan daerah-daerah luar Jawa yang tertinggal.

Di masa reformasi, kebijakan Pemerintah Indonesia dibidang Otonomi Daerah, telah berpengaruh secara nyata terhadap sistem pemerintahan dan keuangan. Dari sentralisasi kepada desentralisasi. Hal tersebut sesuai dengan UU Nomor 22 tahun 1999 jo UU Nomor 32 tahun 2004, dimana pemberian kewenangan otonomi daerah tersebut adalah dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab, termasuk dalam hal ini terutama adalah kewenangan dalam desentralisasi fiskal sebagaimana diatur dalam UU Nomor 25 tahun 1999 jo UU Nomor 32 tahun 2004.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dapat dikemukakan sebagai berikut :

  1. Bagaimana akses publik dalam hal ini UMKM terhadap fasilitas kredit dari Perbankan Khususnya BRI Unit ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini dapat dikemukakan untuk mengetahui bagaimana akses fasilitas kredit dari BRI Unit kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Pelayanan Dari Pegawai Bank BRI

Pelayanan Dari Pegawai Bank BRI

Kesimpulan

Hasil penelitian ini mendapatkan kesimpulan sebagai berikut:

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pencairan kredit sector usaha kecil dan menengah perbankan secara umum lebih dititik beratkan pada aspek collateral dibandingkan dengan aspek  character, capacity, capital, dan condition. Namun ada kebijakan khusus diluar prosedur standar yang diberlakukan oleh pihak Bank Rakyat Indonesia dimana untuk mendapatkan Kredit dengan fasilitas K-3 sampai dengan Rp. 3.000.000,- maka tidak diperlukan jaminan. Sebagai gantinya, calon kreditur wajib menunjukkan barang atau perabotan di rumah yang dimiliki yang dinilai cukup likuid.

Strategi kebijakan yang diterapkan oleh Bank Rakyat Indonesia tersebut dilakukan dengan berpedoman pada asas selektivitas yang tinggi dengan tetap berpegang pada prudential banking principles. Dengan adanya strategi kebijakan tersebut, Bank Rakyat Indonesia terpelihara dengan nilai rata-rata NPL pada tahun 2003-2005 hanya sebesar 1,57 persen. Ini menunjukkan bahwa Bank Rakyat Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan sebesar 5 persen.

Strategi Pemasaran Ditinjau Dari Volume Ekspor

Contoh Tesis Manajemen  ~ Strategi Pemasaran Ditinjau Dari Volume Ekspor Pada CV. Pandanus Yogyakarta

Ilustrasi Gambar Eksport Dan Import

Ilustrasi Gambar Eksport Dan Import

Latar Belakang Tesis : 

Tujuan utama strategi pemasaran adalah agar perusahaan dapat melihat secara obyektif kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga nantinya perusahaan dapat mengantisipasi perubahan lingkungan yang terjadi. Karena dengan mengetahui  faktor internal dan eksternal dapat membuat perencanaan strategi manajemen pemasaran yang sesuai dengan perusahaan.

Pemasaran merupakan ujung tombak suatu perusahaan. Dalam setiap persaingan yang semakin ketat, perusahaan dituntut agar tetap bertahan hidup dan berkembang. Penentuan strategi pemasaran berdasarkan volume ekspor adalah akan banyak memberikan manfaat bagi perusahaan. Melalui data-data volume ekspor dapat diketahui pertumbuhan dan perkembangan perusahaan, yaitu apakah perusahaan sedang tumbuh, stagnan atau mengalami penurunan.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah kecenderungan volume ekspor perusahan sejak tahun 1993-2003?
  2. Bagaimanakah prediksi volume ekspor perusahan 5 tahun kedepan ?
  3. Faktor apakah yang menjadi peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan perusahaan dalam mensiasati strategi pemasaran dalam usaha meningkatan volume ekspor di CV. Pandanus Yogyakarta?

Tujuan Penelitian

Mengacu pada perumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui dan menganalisis kecenderungan volume ekspor perusahan sejak tahun 1993-2003.
  2. Untuk mengetahui dan menganalisis prediksi volume ekspor perusahan 5 tahun kedepan ?
  3. Untuk mengetahui dan menganalisis faktor apakah yang menjadi peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan perusahaan dalam merumuskan strategi pemasaran dalam usaha meningkatan volume ekspor di CV. Pandanus Yogyakarta.

Kesimpulan 

Berdasarkan analisis pada bab sebelumnya kesimpulan dalam penelitian ini dapat dilakukan sebagai berikut :

  1. Pertumbuhan volume ekspor tiap tahun mengalami kenaikan signifikan secara linier.
  2. Prediksi pertumbuhan volume ekspor dalam lima tahun kedepan tetap mengalami kenaikan tiap tahun terutama pada produk box.
  3. Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman utama yang dimilki oleh perusahaan adalah sebagai berikut :
    • Kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan meliputi : omzet yang selalu naik tiap tahun, SDM yang memiliki keahlian dan ketrampilan pada saat ini dan sumberdaya bahan baku yang melimpah.
    • Kelemahan utama perusahaan adalah berkaitan dengan sistem produksi yaitu pada proses penjemuran dan pewarnaan yang masih tergantung pada sinar matahari, sehingga pada saat iklim tidak mendukung dapat menggangu kapasitas produksi.
    • Peluang perusahaan meliputi pertumbuhan permintaan pasar terhadap industri kerajinan pandan terutama pada negara maju selain Amerika dan eropa barat pada pasar selam ini seperti Jepang, Australia dan Asia Barat.
    • Ancaman utama bagi perusahaan dan industri pandan pada umunya di Indonesia adalah pertumbuhan pesaing dari negara tetangga, terutama dari negara Philipina, Thailand dan Vietnam.
    • Berdasarkan anasisis swot posisi CV. Pandanus Yogyakarta adalah adalah berada di kuadran I. Strategi yang paling baik yang dapat diterapkan oleh CV. Pandanus Yogyakarta berdasarkan posisi yang ada adalah growth oriented strategy.

 

 

Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap

Contoh Tesis Manajemen  Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta

Salah Satu Pasien Rawat Inap

Salah Satu Pasien Rawat Inap

Latar Belakang Tesis : 

Dengan adanya populasi penduduk yang meningkat, permintaan (demand) yang tinggi, transportasi dan komunikasi yang mudah, dan berubahnya pola penyakit, maka peluang bagi rumah sakit untuk mengembangkan usahanya akan semakin besar. Mulai tahun 2000 diperkirakan pelayanan kesehatan swasta akan lebih banyak dari pemerintah cenderung menjadi swadana. Rumah sakit pemerintah bersaing terhadap swasta dalam artian fisik, pelayanan dan kualitas.

Masyarakat sekarang ini juga semakin kritis untuk menentukan pilihan. Termasuk dalam memilih rumah sakit untuk berobat. Banyak faktor yang akan dipertimbangkan untuk memilih rumah sakit untuk berobat.

 

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan maka timbul permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien rawat inap menurut dimensi servqual di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta?
  2. Dimensi kualitas pelayanan apakah yang paling dominan  dalam mempengaruhi kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta?
  3. Bagaimana pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta?
  4. Bagaimana strategi yang dilakukan pihak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta dalam usaha peningkatan kualitas layanan yang ada?

 

Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui dan menganalisis kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta.
  2. Untuk mengetahui dan menganalisis dimensi kualitas pelayanan apakah yang paling dominan dalam mempengaruhi kepuasan pasien rawat inap di Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta.
  3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pasien rawat inap di  Rumah Sakit PKU Muhamadiyah Surakarta.
  4. Untuk mengetahui strategi yang dilakukan pihak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta dalam usaha peningkatan kualitas layanan yang ada.
Pertolongan Terhadap Pasien Rawat Inap

Pertolongan Terhadap Pasien Rawat Inap

 

Kesimpulan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang ada dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan  perhitungan skor gap kali skor bobot didapat skor rata-rata sikap pasien adalah –2,822. Skor  ini lebih kecil dari –1. Hal ini menunjukkan pasien  belum puas terhadap pelayanan yang ada.   Sehingga hipotesis yang ada tidak terbukti.

Hal ini berarti kualitas layanan yang ada di rmah sakit PKU muhamamdiyah yang ada belum memberikan kepuasan terhadap sikap konsumen.

2. Dimensi kualitas layanan yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap kepuasan  pasien adalah atribut relliability (X2) . Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien regresi dalam persamaan matematik yang ada.

  • Koefisien regresi dimensi relliability(X2) adalah 0,649. Hal ini berarti dimensi ini mempunyai pengaruh pengaruh 0,649 terhadap sikap pasien. Koefisien regresi dimensi ini lebih tinggi dibandingkan koefisen regresi atribut yang lain.
  • Koefisien regresi dimensi tangibles (X1) adalah 0,432, dimensi ini  mempunyai pengaruh 0,432 terhadap sikap pasien.
  • Dimensi responsiviness (X3) mempunyai pengaruh 0,338 terhadap sikap pasien.
  • Dimensi emphaty (X4) mempunyai pengaruh 0,519 terhadap sikap pasien.
  • Dimensi assurance(X5) mempunyai pengaruh 0,173 terhadap sikap pasien.
  • Nilai koefisien regresi yang positif mempunyai arti sifat pengaruh adalah searah, yaitu semakin tinggi tanggapan pegawai terhadap tangibles(X1) akan dapat meningkatkan terhadap Sikap pasien pegawai.
  • Hasil yang didapat dalam pengujian t test adalah tiga dimensi kualitas pelayanan mempunyai pengaruh signifikan terhadap sikap pasien pada level a =  1%,  yaitu masing-masing mempunyai p value 0,00 , yaitu dimensi dimensi tangibles (X1) , dimensi relliability (X3), dimensi emphaty (X4). Dua dimensi kualitas pelayanan mempunyai pengaruh signifikan terhadap sikap pasien pada level a =  5% yaitu dimensi responsivenes (X3) mempunyai nilai  p value = 0,025 dan dimensi assurance (X5) mempunyai nilai  p value = 0,019.
  • Berdasarkan pengujian secara keseluruhan pengaruh kualitas pelayanan yang terdiri dari dimensi tangibles (X1), dimensi reliability (X2), dimensi responsiviness(X3), dimensi emphaty (X4) dan dimensi assurance (X5) terhadap sikap pasien yaitu dengan membandingkan F hitung dan F tabel didapat hasil nilai p value (nilai probabilitas signifikansi F hitung dan  F tabel) = 0,000 (signifikan pada level a =  1%). Nilai F hitung adalah 19,017. Nilai F hitung lebih besar dari F kritis pada level signifikansi 5% dan 1%.  Hal ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan dan positif dari  dimensi tangibles(X1),  dimensi relliability(X2),  dimensi Responsiviness(X3),  dimensi emphaty (X4) dan  dimensi assurance(X5) terhadap Sikap pasien(Y)

 

 

 

Perhitungan Biaya Produk Untuk Menentukan Bauran Penjualan

Contoh Tesis Manajemen  ~ Perhitungan Biaya Produk Dengan Activity-Based Costing Untuk Menentukan Bauran Penjualan Yang Optimal Di Perusahaan X

Kegiatan Produksi

Kegiatan Produksi

Latar Belakang Tesis :

Salah satu pertimbangan yang biasanya menjadi pertimbangan utama dalam menentukan bauran penjualan adalah margin keuntungan (profit margin) tiap produk yang dihasilkan oleh perusahaan.  Perhitungan margin keuntungan yang benar harus didukung oleh informasi tentang biaya produk yang akurat. Kesalahan dalam menghitung biaya produk akan menghasilkan penentuan bauran penjualan yang tidak optimal.

Ada kemungkinan bahwa perusahaan melakukan produksi dan menjual produk tertentu yang sebenarnya memberikan kontribusi kerugian, justru dalam volume yang banyak karena dianggap memiliki margin keuntungan yang tinggi, sebaliknya untuk produk tertentu yang sebenarnya memberikan kontribusi keuntungan justru dianggap tidak menguntungkan sehingga volume produksi dan penjualannya rendah, dikurangi, atau bahkan dihentikan.Perhitungan biaya produk yang akurat menjadi sangat penting karena menjadi dasar yang menentukan pengambilan keputusan manajemen yang berkaitan dengan bauran penjualan. Kesalahan dalam menghitung biaya produk dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi perusahaan.

Identifikasi Masalah

Dalam penelitian ini akan dikemukakan masalah:

  1. bagaimana penerapan metoda Activity-Based Costing dalam menghitung biaya produk di Perusahaan X?
  2. bagaimana perbedaan perhitungan biaya produk berdasarkan hasil perhitungan dengan metoda Activity-Based Costing dibandingkan dengan metoda tradisional?
  3. bagaimana keputusan manajerial yang berkaitan dengan penentuan bauran penjualan Perusahaan X berdasarkan hasil perhitungan biaya produk dengan menggunakan metoda Activity-Based Costing dibandingkan hasil perhitungan biaya produk dengan metoda tradisional?

Maksud Dan Tujuan Penelitian 

Penelitian ini dimaksudkan untuk mencoba menerapkan metoda Activity-Based Costing untuk menghitung biaya produk di Perusahaan X.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang:

  1. cara penerapan metoda Activity-Based Costing yang sesuai dalam menghitung biaya produk di Perusahaan X
  2. perbedaan perhitungan biaya produk Perusahaan X antara hasil perhitungan dengan metoda Activity-Based Costing dengan metoda tradisional
  3. alternatif keputusan manajerial yang berkaitan dengan penentuan bauran penjualan Perusahaan X  berdasarkan hasil perhitungan biaya produk dengan menggunakan metoda Activity-Based Costing dibandingkan hasil perhitungan biaya produk dengan metoda tradisional

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil setelah melihat hasil penelitian adalah sebagai berikut:

  • Perhitungan biaya produk dengan metoda Activity-Based Costing (ABC) yang dalam penelitian dicoba diterapkan di Perusahaan X memberikan hasil hitung yang lebih akurat dibandingkan dengan metoda tradisional.
  • Pembebanan  biaya-biaya tak-langsung kepada produk dengan metoda tradisional yang menggunakan dasar alokasi sesuai perbandingan atau porsi biaya tenaga kerja langsung ternyata memberikan pembebanan biaya yang keliru untuk banyak aktivitas yang melibatkan sumberdaya selain tenaga kerja langsung. Apalagi jika memperhatikan besarnya nilai biaya upah buruh tenaga kerja langsung yang kecil dibandingkan keseluruhan biaya yang timbul dalam operasi Perusahaan X tahun 2002.
  • Biaya produk  Mango & Guava Nectar, Tomato Sauce Bottle, dan Tomato Sauce Custom ternyata undercosted sebesar Rp.328,88., Rp.751,42., dan Rp.1.144,15., jika dihitung dengan metoda tradisional. Biaya produk setelah dihitung dengan metoda ABC memberikan nilai yang lebih besar. Hal ini berarti margin keuntungan untuk produk-produk tersebut sebenarnya lebih kecil daripada anggapan pihak manajemen Perusahaan X sebelum penerapan metoda ABC.
  • Biaya produk  Mango Bars, Natural Apple Purée, Guava Purée, dan Pineapple in Syrup ternyata overcosted  sebesar Rp.1.275,14., Rp.232,79., Rp.208,54., dan Rp.1.315,66., jika dihitung dengan metoda tradisional. Biaya produk setelah dihitung dengan metoda ABC memberikan nilai yang lebih kecil. Hal ini berarti margin keuntungan untuk produk-produk tersebut sebenarnya lebih besar daripada anggapan pihak manajemen Perusahaan X sebelum penerapan metoda ABC.
  • Biaya produk Tomato Sauce Bottle ternyata lebih besar daripada harga jual produk tersebut, sehingga penjualan produk ini di tahun 2002 sebenarnya memberikan kontribusi kerugian Rp.401,11. per unit, bagi Perusahaan X.
  • Dengan memperhatikan kendala-kendala yang paling signifikan di Perusahaan X, melalui bantuan linear programming untuk menentukan bauran penjualan, produk Mango & Guava Nectar dan Tomato Sauce Bottle tidak diproduksi dan tidak dijual di tahun berikutnya, sedangkan produk-produk Mango Bars, Natural Apple Purée, Guava Purée, dan Pineapple in Syrup diproduksi dan dijual lebih banyak. Produk Tomato Sauce Custom diproduksi dan dijual dalam jumlah yang lebih banyak. Bauran penjualan ini adalah sesuai “perhitungan secara matematis”, sehingga masih perlu pertimbangan-pertimbangan lain, terutama yang bersifat non-finansial untuk menentukan keputusan manajemen tentang bauran penjualan.

 

 

Pengaruh Motivasi Berprestasi Dan Sikap Terhadap Hasil Belajar

Contoh Tesis Manajemen Pengaruh Motivasi Berprestasi Dan Sikap Terhadap Hasil Belajar Peserta Diklatpim Tingkat Iii Di Badan Diklat Propinsi DIY

Salah Satu Kegiatan Outbond Dalam Diklat

Salah Satu Kegiatan Outbond Dalam Diklat

Latar Belakang Tesis :

Salah satu pendidikan dan pelatihan yang tertuang dalam kebijakan pendidikan dan pelatihan Pegawai Negeri Sipil adalah Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat III. Diklatpim Tingkat III adalah diklat yang diperuntukkan untuk mencapai persyaratan kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintahan yang sesuai dengan jenjang jabatan struktural. Dengan demikian sasaran diklat ini adalah untuk terwujudnya PNS yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan persyaratan jabatan struktural eselon III.

Sebagai suatu proses pendidikan yang diharapkan dapat memberikan solusi terhadap peningkatan kompetensi kepemimpinan aparatur pemerintahan, maka kualitas hasil pelaksanaan diklat menjadi perhatian yang cukup serius. Dalam pelaksanaan diklat yang dilakukan haruslah diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar dalam diklat. Banyak faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar dalam diklat salah satu diantaranya adalah motivasi. Motivasi merupakan perubahan tenaga dalam diri individu yang ditandai oleh dorongan afeksi dan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan (Donald dalam Sumanto, 1998 hal. 203).

Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan, maka dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah Motivasi berprestasi dan sikap berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta Diklatpim Tingkat III di Badan Diklat Propinsi DIY?
  2. Diantara variabel motivasi berprestasi dan sikap, manakah variabel yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap hasil belajar peserta Diklatpim Tingkat III di Badan Diklat Propinsi DIY?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, maka dapat ditentukan tujuan penelitian sebagai berikut:

  1. Untuk menguji signifikansi pengaruh motivasi berprestasi dan sikap dalam diklat dengan hasil belajar kepemimpinan.
  2. Menguji variabel manakah yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap hasil belajar.

Simpulan

Berdasarkan analisis data terhadap hasil penelitian, maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pertama, terbukti bahwa Motivasi Berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap Hasil Belajar. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai t hitung sebesar 9,353 dengan nilai sig sebesar 0 (nol).
  2. Kedua, terbukti bahwa Sikap dalam diklat berpengaruh secara signifikan terhadap Hasil Belajar. Hal tersebut ditunjukkan dengan pembuktian hipotesis 2 dari nilai t hitung sebesar 8,144 dengan nilai sig sebesar 0 (nol).
  3. Ketiga,, terbukti bahwa Motivasi Berprestasi dan Sikap dalam diklat secara simultan berpengaruh terhadap Hasil Belajar. Pembuktian hipotesis 3 tersebut terlihat dari nilai F hitung sebesar 127,770 dengan nilai sig sebesar 0 (nol).
  4. Keempat, terbukti bahwa Motivasi berprestasi berpengaruh lebih dominan terhadap Hasil Belajar. Pembuktian tersebut terlihat dari nilai koefisien beta dari variabel Motivasi Berprestasi adalah sebesar 0,558 lebih besar dari nilai koefisien beta dari variabel Sikap dalam Diklat adalah sebesar 0,486.

Analisis Kepuasan Peserta Diklat Terhadap Pelayanan Diklat

Contoh Tesis Manajemen ~ Analisis Kepuasan Peserta Diklat  Terhadap Pelayanan Diklat Di Lpmp Semarang

Latar Belakang Tesis : 

Sebagai lembaga pelatihan dan penataran guru bersifat temporer, dalam hal ini sarana dan prasarana LPMP selain digunakan oleh LPMP sendiri dalam mendukung fungsinya sebagai sebuah lembaga pendidikan juga dapat menjadi lembaga penyedia sarana dan prasarana dalam pengembangan SDM pendidikan lembaga lain.

Dengan demikian sarana dan prasarana yang ada dapat berfungsi dengan lebih optimal. Sedangkan fasilitas sarana dan prasarana yang ada di LPMP meliputi fasilitas fisik latihan, berupa ruang belajar, peralatan dan praktek laboratorium, perabot, perpustakaan, alat peraga pendidikan, fasilitas olah raga, fasilitas kesenian dan fasilitas asrama.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan maka timbul permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimakah kepuasan peserta diklat terhadap kualitas layanan  di LPMP Semarang?
  2. Bagaimanakah strategi yang dapat digunakan pihak LPMP dalam meningkatkan kepuasan peserta diklat?

Tujuan penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui dan menganalisis kepuasan peserta diklat terhadap kualitas layanan  di LPMP Semarang.
  2. Untuk mengetahui dan menganalisis strategi yang dapat digunakan pihak LPMP dalam meningkatkan kepuasan peserta diklat yang ada.

Kesimpulan

Hasil yang didapat dalam penelitian ini tentang kualitas pelayanan yang ada di LPMP melalui analisis gap dan analisis strategi adalah sebagai berikut :

Kepuasan Peserta Diklat
Secara umum peserta diklat telah puas terhadap kualitas layanan yang ada di LPMP pada saat ini. Rata-rata skor gap adalah positif sehingga kualitas layanan yang ada pada saat ini telah memenuhi harapan peserta diklat. Dalam tinjauan tiap atribut kualitas layanan didapat hasil semua atribut mempunyai gap positif  kecuali pada ruang asrama dan sarana perpustakaan nilai gap adalah negatif, artinya nilai kinerja kualitas layanan asrama masih dibawah harapan peserta diklat.

Berdasarkan diagram cartesius didapat hasil bahwa secara keseluruhan kualitas layanan yang ada berada dikuadran I yaitu kualitas pelayanan dinilai baik dan diharapkan tinggi oleh peserta diklat. Secara umum startegi yang tepat untuk saat ini adalah mempertahankan  kualitas layanan yang ada. Berdasarkan hasil pemetaan dengan menggunakan diagram cartesius secara parsial dapat dilakukan strategi yaitu ruang belajar, sarana olah raga, perlengkapan peralatan dan pelayanan administrasi merupakan atribut yang perlu dipertahankan, sedangkan kondisi ruang asrama dan sarana perpustakaan perlu untuk ditingkatkan.

Variabel konsumsi berada pada kuadran III sehingga kualitas layanan yang ada perlu ditingkatkan untuk jangka panjang, sedangkan variabel pelayanan kesehatan justru perlu dilakukan efisiensi layanan yang ada.

Strategi Peningkatan Kepuasan Peserta Diklat

Variabel ruang asrama dan sarana perpustakaan perlu mendapatkan prioritas untuk ditingkatkan mengingat variabel ini mempunyai gap paling besar terutuma ruang asrama mempunyai gap negatif dan mempunyai daya dukung langsung terhadap kegiatan pendidikan dan pelatihan di LPMP. Sedangkan enam variabel yang lain hanya perlu dipertahankan, dilakukan efisiensi kinerja layanannya dan dioptimalkan pemanfaatannya. Tidak banyak diketemukan potensi dan kendala dalam usaha peningkatan kepuasan peserta diklat  kecuali untuk jangka panjang. Dalam jangka  pendek variabel yang perlu ditingkatkan adalah variabel ruang asrama dan sarana perpustakaan.

Potensi dan kendala dalam usaha peningkatan kepuasan peserta diklat lebih banyak muncul berkaitan dengan desentralisiasi lembaga pendidikan dan pasar bebas. Pengembangan sistem informasi, sarana-prasarana fisik yang representatif, kelengkapan buku-buku pelajaran, perpustakaan digital, kenyamanan ruang belajar merupakan hal yang menarik dalam pengembangan LPMP kedepan, terutama dalam usaha meningkatkan kualitas layanan dan meningkatkan kinerja layanan dan daya saing. Dalam hal lain pengembangan ini membutuhkan kesiapan dana pengembangan, SDM dan manajemen. Sehingga skala prioritas perlu dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan sumberdaya internal dengan tetap memperhatikan perkembangan lingkungan lembaga.

1
Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?
Powered by