HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Archive for the Contoh Tesis Category

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Komoditi Kopi

Latar Belakang Masalah 

Pengembangan agroindustri merupakan  tindakan yang secara serentak akan dapat mengembangkan sektor pertanian. Dengan konsep keterkaitan, permintaan terhadap hasil pertanian akan meningkat, sebagai akibat berkembangnya agroindustri maka idealnya lokasi pengembangan agroindustri tersebut ditempatkan di pedesaan, sesuai dengan prinsip mendekati bahan  baku. Disamping karena produk pertanian sebagai bahan baku agroindustri tersebut umumnya dapat dihasilkan didaerah pedesaan (Soeharjo, 1991).

Eksport Komoditas Kopi di Indonesia

Eksport Komoditas Kopi di Indonesia

 

Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang beragam terutama pada sektor pertanian dan perkebunan yang menghasilkan bahan pangan maupun komoditi ekspor. Berdasarkan data statistik jumlah penduduk Sumatera Utara mencapai 12, 326 juta jiwa (tahun 2005) dan sebagian besar penduduknya tinggal dipedesaan yaitu mencapai 6.659 juta jiwa atau sekitar 54, 03%, sementara itu jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara mencapai 14.93 % yang tingkat pendapatannya masih sangat rendah dan terdapat sekitar 53.73% penduduk Sumatera Utara yang bekerja di sektor pertanian (BPS, 2006). Sehingga untuk memanfaatkan potensi penduduk yang relatif besar tersebut, industrialisasi pedesaan (agroindustri) saatnya digalakkan, dalam hal ini adalah industri untuk mengolah bahan dari hasil pertanian setempat (Sari, 2002).

Pada saat Indonesia mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997, propinsi Sumatera Utara juga terkena dampaknya, dan hingga tahun 2000 yang lalu masih menekan perekonomian secara menyeluruh. Tetapi karena Sumatera Utara memiliki areal perkebunan yang cukup luas serta terdapatnya agroindustri, walaupun terjadi krisis ekonomi namun Sumatera Utara masih dapat bertahan hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi propinsi Sumatera Utara (tanpa migas) yaitu tahun 1997 sebesar 6,88%, tahun 1998 turun menjadi minus 10,99%,  tetapi tahun 1999 tumbuh menjadi 2,66% dan tahun 2001 membaik menjadi 5,23% (Disperindag S.U, 2002).

Secara umum hasil perkebunan yang paling menonjol di Sumatera Utara adalah; karet, kelapa sawit, tembakau, tebu, teh dan coklat.  Komoditi teh merupakan komoditi unggulan di Sumatera Utara yang juga sangat penting artinya bagi kebutuhan masyarakat, dimana teh merupakan barang substitusi dari komoditi kopi.

Rumusan Masalah

  • Berapa besar pengaruh harga kopi domestik terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara ?
  • Berapa besar pengaruh harga ekspektasi kopi domestik terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara ?
  • Berapa besar pengaruh harga teh terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara ?
  • Berapa besar pengaruh harga gula terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara ?
  • Berapa besar pengaruh pendapatan perkapita masyarakat terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara ?

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data time series tahun 1985–2005, yang bersumber dari BPS Sumatera Utara, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara dan dianalisis dengan menggunakan metode Ordinary Least Squarer (OLS) dengan menggunakan Model Koyck (model ekspektasi).

Berdasarkan hasil estimasi, penelitian ini menemukan bahwa faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara ialah harga kopi domestik, harga ekspektasi   kopi domestik, harga gula dan pendapatan perkapita  pada tingkat kepercayaan 95% dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 96,91%. Secara parsial hasil analisis  menunjukkan bahwa harga kopi domestik berpengaruh negatif terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara, harga teh (barang substitusi) berpengaruh positif terhadap  permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara, harga gula (barang komplementer) berpengaruh negatif terhadap permintaan komoditit kopi di Sumatera Utara dan pendapatan perkapita berpengaruh positif  terhadap permintaan komoditi kopi Sumatera Utara, sementara itu harga ekspektasi kopi domestik berpengaruh negatif terhadap permintaan komoditi kopi di Sumatera Utara, artinya jika harga ekspektasi turun maka permintaan komoditi kopi oleh konsumen akan meningkat.

Kesimpulan

Sesuai dengan hasil penelitian tersebut  disarankan agar para petani kopi di Sumatera Utara berusaha meningkatkan  produksi dan tetap menjaga kualitas kopi yang dihasilkan. Pemerintah Propinsi Sumatera Utara perlu membantu para petani kopi dengan memberikan insentif (rangsangan) apakah berupa pinjaman modal atau penyediaan sarana dan prasarana dalam upaya peningkatan produksi kopi di Sumatera Utara, sehingga mampu menguasai pasar domestik bahkan menembus pasar ekspor (luar negeri).

Incoming search terms:

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Komitmen Organisasi Karyawan Puskesmas

Contoh Tesis KESMAS Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dan  Pertimbangan Keadilan Dengan Komitmen Organisasi Karyawan Puskesmas Di Kabupaten Musi Rawas

Pelayanan Puskesmas

Pelayanan Puskesmas

Latar Belakang Penelitian :

Puskesmas sudah sekian lama menghadapi masalah-masalah yang menyangkut keorganisasian yang meliputi beberapa aspek, terutama yang banyak dikeluhkan masyarakat adalah kedisiplinan karyawan tentang kepatuhan dalam mentaati jadwal pelayanan dan proses pelayanan. Masalh yang ada di lingkungan internal puskesmas, misalnya tentang hubungan dan komunikasi sehari-hari antar karyawan yang berkaitan dengan aspek tugas atau kinerja, di antara karyawan masih menunjukan sikap egosektoral, kurang dapat saling berkoordinasi dengan baik untuk dapat menyelesaikan tugas bersama. Dalam karyawan masih mementingkan tugasnya masing-masing.

Hal ini mungkin karena karyawan belum mengetahui tentang uraian tugas, batas-batas kewenangan dan tanggung jawab yang terkait dengan unit lain, ditambah lagi dengan proses pendelegasian wewenang yang tidak berjalan dengan baik. Peran seorang pimpinan puskesmas diharapkan dapat bersikap arif dalam melihat kondisi organisasinya. Namun, justru kadang pimpinan kurang memperhatikan bawahannya secara utuh sehingga sering beban tugas tertumpu pada bagian / unit tertentu atau bahkan pada orang-orang tertentu yang dianggap lebih dapat diajak bekerja sama . Hal ini mengakibatkan di antara karyawan tumbuh perasaan seperti kurang berperan /  terlibat dalam menyelesaikan tugas-tugas puskesmas.

Perumusan Masalah

Sumber daya manusia mempunyai peranan yang sangat penting dalam menghadapi tantangan era globalisasi saat ini karena sumber daya manusia yang berkualitas dapat meningkatkan produktifitas dan daya saing yang tinggi. Karyawan puskesmas adalah asset organisasi yang harus diberdayakan karena merupakan ujung tombak dari pelayanan kesehatan kita. Oleh karena itu pengelola atau pemberdayaan karyawan menjadi hal yang sangat penting dan mendesak.

Kondisi kinerja karyawan puskesmas yang tercipta selama ini kurang dapat memperhatikan aspek-aspek yang dapat menimbulkan kepuasaan kerja. Kondisi kinerja dengan tingkat kedisiplinan yang rendah sekarang ini kurang bersifat kondusif untuk tantangan masa depan yaitu semakin ketatnya persaingan dan tuntutan masyarakat berupa pelayan yang bermutu.

Persepsi karyawan puskesmas tentang rasa keadilan dari prosedur kebijakan puskesmas yang diterapkan oleh organisasi selama ini, merupakan salah satu unsur yang semestinya harus menjadi perhatiaan. Masalah ini disinyalir telah mengakibatkan kurangnya kepuasan kerja karyawan dan pada akhirnya akan mengurangi keterikatan, kesetiaan, rasa tanggung jawab dan rasa memiliki organisasi puskesmas.

Dinamika Karyawan Puskesmas

Dinamika Karyawan Puskesmas

Tujuan Penelitian

  1. ingin megetahui sejauh mana hubungan antara kepuasan kerja dengan komitmen organisasional karyawan puskesmas di kabupaten Musi Rawas.
  2. ingin mengethui sejauh mana hubungan anrata pertimbangan keadilan dengan organisasi karyawan puskesmas di kabupaten Musi Rawas.
  3. ingin mengetahui sejauh mana pengaruh variabel sertaan (umur, pendidikan, jenis kelamin, starus perkawinan, dan mada kerja) terhadap komitmen organisasioal karyawan puskesmas di kabupaten Musi Rawas.

Kesimpulan

Secara umum penelitian ini berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan dan mendapat respon yang cukup baik dari berbagai pihak terutama dari para responden. Berdasarkan analisis, maka dari penelitian ini dapat ditarik suatu kesimpulan :

  1. Terdapat hubungan positif antara variabel kepuasan kerja dan pertimbangan keadilan dengan komitmen organisasional karyawan puskesmas di Kabupaten Musi Rawas. Berdasarkan hasil yang didapat masih terdapat variabel-variabel lain yang mempengaruhi komitmen organisasi tetapi tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Variabel kepuasan kerja mempunyai hubungan yang lebih besar dengan komitmen organisasi daripada variabel pertimbangan keadilan.
  2. Variabel kepuasan kerja mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan komitmen organisasi. Demikian juga keempat sub variabel pada variabel kepuasan kerja mempunyai hubungan yang signifikan dengan komitmen organisasi, mulai dari urutan terbesar adalah sub variabel tanggapan terhadap pekerjaan, penilaian kerja, kondisi kerja baru disusul dengan sub variabel ganjaran.
  3. Variabel pertimbangan keadilan mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan komitmen organisasi. Demikian juga dengan kedua sub variabelnya dimana sub variabel keadilan distributif hubungannya dengan komitmen organisasi lebih kuat dibandingkan dengan keadilan prosedural.
  4. Tidak satupun dari kelima faktor sosio demografik dalampenelitian ini yaitu umur, jenis kelamin, dasar pendidikan, masa kerja, dan status perkawinan yang mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap komitmen organisasional.
Incoming search terms:

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Analisis Keterbukaan Ekonomi Terhadap Nilai Tukar Rupiah Di Indonesia

Latar Belakang Masalah

Perekonomian  Indonesia  menganut  sistem  perekonomian  terbuka  yang ditandai  dengan  adanya  perpindahan  arus  barang  dan  jasa  (ekspor-import)  serta modal/investasi dan atau portofolio  sehingga  secara  langsung akan  terimbas dengan sistem perekonomian dunia. Seperti pada  saat  ini, perekonomian  Indonesia merasakan dampak dari krisis keuangan  global,  begitu  juga  dengan  melemahnya  perekonomian  dunia  telah mengimbas menurunnya kinerja perekonomian Indonesia.   Berbagai  indikator  perekonomian menunjukkan  bahwa  krisis  perekonomian global  telah  menyebar  pada  kinerja  perekonomian  di  dalam  negeri.  Pertumbuhan ekonomi  diperkirakan  akan  mengalami  perlambatan  dikarenakan  konsumsi  rumah tangga  diperkirakan  akan  tumbuh  melambat  begitu  juga  dengan  investasi  akibat menurunnya  permintaan  eksternal  dan  meningkatnya  faktor  resiko  ketidakpastian perekonomian  dunia.  Pertumbuhan  ekspor  diperkirakan  akan  melambat  sedangkan pertumbuhan impor diperkirakan akan tertahan.

Nilai tukar selama Oktober 2008 mengalami depresiasi dikarenakan sentimen global  telah mendorong  terjadinya perilaku menghindari  resiko  (risk aversion) oleh para  investor  luar negeri. Secara alamiah,  terjadinya krisis global menyebabkan para investor  memindahkan  portofolionya  ke  luar  dari  Indonesia.  Hal  ini  memicu terjadinya  capital  outflow  meskipun  kondisi  fundamental  perekonomian  Indonesia masih kondusif. Perilaku tersebut menyebabkan nilai tukar rupiah melemah. Dengan perkembangan ekonomi  internasional yang semakin pesat, hubungan ekonomi  antar  negara  akan menjadi  saling  terkait  dan mengakibatkan  peningkatan arus  perdagangan  barang  maupun  uang  serta  modal  antar  negara.  Terjadinya perubahan  indikator  makro  di  negara  lain,  secara  tidak  langsung  akan  berdampak pada indikator suatu negara.

Rumusan Masalah

  • Bagaimana  pengaruh  derajat  keterbukaan  ekonomi  3  bulan  sebelumnya terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia ?
  • Bagaimana pengaruh suku bunga Bank  Indonesia  tenor 3 bulan pada 3 bulan sebelumnya terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia ?
  • Bagaimana  pengaruh  inflasi  3  bulan  sebelumnya  terhadap  nilai  tukar  rupiah  di Indonesia ?
  • Bagaimana  pengaruh  Net  Foreign  Investment  (NFI)  3  bulan  sebelumnya terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia ?

Metode Penelitian

Ruang  lingkup  penelitian  ini  bersifat makro  dengan memfokuskan  wilayah Indonesia.  Penelitian  ini  menggunakan  data  sekunder.

Data  sekunder  bersumber  dari Bank  Indonesia  (BI) dan Badan Pusat Statistik  (BPS) dan  sumber-sumber  lain yang dipublikasikan,  serta  penelitian  sebelumnya.

Untuk  dapat mengetahui  hubungan  antara  indeks  derajat  keterbukaan,  suku bunga,  inflasi,  dan  investasi  asing  bersih  (NFI)  terhadap  nilai  tukar  rupiah,  maka penelitian ini menggunakan distributed lag model sebagai berikut:  KURSt = ‚0 + ‚1 IDKt-1 + ‚2 SBIt-1 + ‚3 INFt-1 + ‚4 NFIt-1 + µ

Kesimpulan :

Hasil  penelitian menunjukkan  indeks  derajat  keterbukaan  ekonomi  3  bulan sebelumnya,  suku  bunga  Bank  Indonesia  tenor  3  bulan  pada  3  bulan  sebelumnya, inflasi  3  bulan  sebelumnya  dan  investasi  asing  3  bulan  sebelumnya  secara keseluruhan  (serentak)  mempengaruhi  nilai  tukar  Rupiah/US$  di  Indonesia.

Sedangkan  secara parsial,  indeks derajat keterbukaan ekonomi 3 bulan  sebelumnya, suku  bunga Bank  Indonesia  tenor  3  bulan  pada  3  bulan  sebelumnya  serta  inflasi  3 bulan  sebelumnya  sangat  signifikan  secara  statistik  mempengaruhi  nilai  tukar Rupiah/US$.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kontribusi inflasi terhadap nilai  tukar  Rupiah/US$  lebih  besar  dibandingkan  indeks  derajat  keterbukaan ekonomi, suku bunga Bank Indonesia tenor 3 bulan, dan investasi asing bersih.


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Gejala Saluran Pernapasan Dan Gangguan Ventilasi Paru Pekerja

Contoh Tesis KESMAS ~ Hubungan Paparan  Debu  Karbon  Hitam  Dengan  Gejala  Saluran Pernapasan  Dan  Gangguan Ventilasi  Paru  Pekerja  Di  PT. Aneka Sinendo  Kabupaten  Kulonprogo  Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Alat Pernafasan Manusia

Alat Pernafasan Manusia

Latar Belakang Tesis :

Debu industri yang terdapat dalam udara dikelompokkan menjadi dua, yaitu “deposit particulate matter” adalah partikel debu yang hanya berada sementara di udara, partikel ini segera mengendap karena daya tarik bumi. “Suspended particulate matter” adalah debu yang tetap berada di udara dan tidak mudah mengendap. Partikel debu yang dapat dihirup berukuran 0,1 sampai 10 mikron (Yunus, F; 1997).

 Upaya perlindungan terhadap tenaga kerja perlu terus ditingkatkan melalui perbaikan syarat kerja, kondisi lingkungan kerja, serta hubungan kerja dalam rangka meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja secara keseluruhan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :

Apakah ada hubungan antara paparan debu karbon hitam dengan gejala gangguan saluran pernapasan tenaga kerja.Apakah ada hubungan antara paparan debu karbon hitam dengan gangguan ventilasi paru tenaga kerja.Apakah ada hubungan antara gejala gangguan saluran pernapasan dengan gangguan ventilasi paru tenaga kerja.

Seseorang Yang Menggunakan Alat Bantu Pernafasan

Seseorang Yang Menggunakan Alat Bantu Pernafasan

Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui kadar paparan debu karbon hitam di PT. Aneka Sinendo.
  2. Melihat gambaran gejala saluran pernapasan dan gangguan ventilasi paru pada tenaga kerja.
  3. Mengetahui apakah ada hubungan antara paparan debu karbon hitam dengan gejala saluran pernapasan pada tenaga kerja.

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Pemaparan kadar debu karbon hitam lingkungan kerja dibagian produksi (extruder dan oven) PT. Aneka Sinendo melebihi Nilai Ambang Batas (NAB),
  2. Ada hubungan yang bermakna antara paparan kadar debu karbon hitam dengan keluhan subjektif saluran pernapasan (yang terbanyak adalah batuk-batuk, berdahak dan sesak napas dan gangguan ventilasi paru).
  3. Ada hubungan yang bermakna antara keluhan subjektif saluran pernapasan dengan gangguan ventilasi paru.
  4. Faktor risiko lain yang mempengaruhi keluhan subjektif saluran pernapasan dan gangguan ventilasi paru antara lain adalah masa kerja dan status gizi tenaga kerja.
  5. Ada hubungan yang bermakna antara paparan debu karbon hitam dengan gejala saluran pernapasan pada tenaga kerja. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antaran paparan debu karbon hitam dengan keluhan subjektif saluran pernapasan (p=0,022) dan gangguan ventilasi paru (p=0,034) pada tenaga kerja.

 

 


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Analisis Pembangunan Manusia Di indonesia

Latar Belakang Masalah

Di  tengah  semakin  membaiknya  kinerja  perekonomian  nasional  sepanjang tahun  2007,  persoalan  pengangguran  dan  kemiskinan masih  saja  tak  terselesaikan. Berbagai upaya  telah dilakukan pemerintah untuk mengatasinya. Kebanyakan upaya yang dilakukan pemerintah adalah bagaimana melapangkan perkembangan  investasi sektor  riil  yang  pada  gilirannya  akan  membuka  akses  pada  lapangan  kerja  yang semakin  luas. Untuk itu pemerintah bekerja keras membenahi sistem dan aturan agar lebih  ringkas,   murah  dan  memiliki   kepastian  hukum.   Tetapi   semua   itu   tidak memberikan hasil yang memuaskan bagi kesejahteraan rakyat pada umumnya. Angka kemiskinan  sampai  dengan  Juni  2007  berjumlah  37,17  juta  jiwa  atau  17,75  persen  populasi  penduduk  Indonesia  (Kompas, 11/12/2007).  Berdasarkan publikasi UNDP dalam Human Development Report 2007/2008, rasio  penduduk  berpenghasilan maksimal US$2 mencapai  52,4  persen,  lebih  buruk dibandingkan negara  tetangga Malaysia, Thailand dan Filipina  (Tabel 1). Fenomena ini  membuktikan  bahwa  pertumbuhan  ekonomi  tidak  dengan  sendirinya  menjamin terciptanya kesejahteraan masyarakat (trickle down effect).

Banyak  negara  –  termasuk  Indonesia  –  menerapkan  strategi  pembangunan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi sebagai upaya untuk memulihkan keadaan pasca Perang Dunia II. Dalam kondisi rekontruksi pasca perang, penyediaan kebutuhan  hajat  hidup  orang  banyak  menjadi  sangat  penting  untuk  diprioritaskan. Tujuan  pembangunan  adalah  bagaimana meningkatkan  pertumbuhan  ekonomi  yang diukur dengan  indikator gross domestic product/gross national product (GDP/GNP). Jadi, dalam hal  ini, disadari atau  tidak disadari, manusia adalah sebagai  input dalam proses pertumbuhan, bukan sasaran pertumbuhan ekonomi. Pembangunan manusia, menurut  definisi UNDP,  adalah  proses memperluas pilihan-pilihan  penduduk (people’s  choice).

Dari  sekian  banyak  pilihan,  ada  tiga pilihan yang dianggap paling penting, yaitu: panjang umur dan sehat, berpendidikan, dan  akses ke  sumber daya  yang dapat memenuhi  standar  hidup  yang  layak. Pilihan lain yang dianggap mendukung tiga pilihan di atas adalah kebebasan politik, hak asasi   4 manusia,  dan  penghormatan  hak  pribadi. Dengan  demikian,  pembangunan manusia lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi,  lebih dari sekedar peningkatan pendapatan dan lebih dari sekedar proses produksi komoditas serta akumulasi modal.

 

Rumusan Masalah

  • Bagaimanakah  pengaruh  pengeluaran  rumah  tangga  untuk  makanan  terhadap pembangunan manusia?
  • Bagaimanakah  pengaruh  pengeluaran  rumah  tangga  untuk  bukan  makanan terhadap pembangunan manusia?
  • Bagaimanakah  pengaruh  pengeluaran  pemerintah  bidang  pendidikan  terhadap pembangunan manusia?
  • Bagaimanakah pengaruh rasio penduduk miskin terhadap pembangunan manusia?
  • Bagaimanakah pengaruh krisis ekonomi terhadap pembangunan manusia?

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode data runtun waktu (time series) dan silang tempat (cross section) atas 26 propinsi pada periode 1996, 1999, 2002, 2004, 2005 dan 2006.

Analisis data menggunakan metode efek efek acak (random effect). Penggunaan metode ini dapat menjelaskan perbedaan karakteristik pembangunan manusia masing-masing propinsi, sehingga lebih representatif.

Kesimpulan 

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara konsumsi rumah tangga untuk makanan dan bukan makanan, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan, rasio penduduk miskin dan krisis ekonomi terhadap pembangunan manusia di Indonesia.

Besarnya pengaruh tersebut ditunjukkan oleh nilai koefien regresi variabel-variabel bebas, yakni: –0,9829 untuk variabel konsumsi rumah tangga untuk makanan, 1,2774 untuk konsumsi rumah tangga untuk bukan makanan, 26,6791 untuk pengeluaran pemerintah untuk pendidikan dan –0.214 untuk rasio penduduk miskin.

Variabel dummy menunjukkan pengaruh negatif.

Incoming search terms:

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Analisis Minat Penggunakan Ulang Pelayanan Rumah Sakit Umum

Contoh Tesis KESMAS ~  Analisis Minat Konsumen Untuk Menggunakan Ulang Pelayanan Rumah Sakit Umum Mitra Keluarga Husada  Pedan Klaten

Ilustrasi Gedung Rumaah Sakit

Ilustrasi Gedung Rumaah Sakit

Latar Belakang Tesis :

Lingkungan organisasi mengalami perubahan yang dinamis, cepat dan radikal dengan semakin meningkatnya proses globalisasi yang melanda di semua negara di dunia (Mulyadi,2001). Perubahan lingkungan global yang sedang berlangsung berdampak pada sektor kesehatan baik pada tingkatan makro yaitu Sistem Kesehatan Nasional dan pada tingkatan mikro yaitu Rumah Sakit. Rumah sakit sebagai suatu organisasi harus menghadapi persaingan global, yang menuntut digunakannya konsep manajemen stratejik yang digunakan sebagai model penafsiran perubahan dan adaptasi strategis terhadap perubahan lingkungan, serta digunakannya perencanaan strategi pemasaran yang berorientasi pada konsumen sebagai jawaban dari perubahan kebutuhan konsumen yang sangat cepat sehingga rumah sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan harapan konsumen bahkan melebihi harapan konsumen.

Menurut Mulyadi (2001), dampak dari globalisasi tersebut terjadi pergeseran kekuasaan dalam pasar dimana konsumen memegang kendali terhadap jasa pelayanan, sehingga konsumen menuntut agar diperlakukan secara istimewa. Rumah sakit dalam memberikan jasa pelayanan berorientasi keinginan dan kebutuhan konsumen, atau berorientasi pada konsumen (consumer oriented), sehingga kegiatan pemasaran yang dilakukan rumah sakit harus dimulai dengan usaha mengenal dan merumuskan keinginan dan kebutuhan dari konsumen .

Perumusan Masalah Penelitian 

Sebagai upaya pengenalan terhadap perilaku konsumen dalam menggunakan jasa pelayanan rumah sakit, maka diperlukan analisis untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat konsumen dalam menggunakan ulang jasa pelayanan rumah sakit, sehingga dengan mengetahui minat konsumen dalam menggunakan jasa pelayanan rumah sakit diharapkan dapat merumuskan strategi pemasaran tepat bagi rumah sakit berdasarkan minat konsumen.

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, peneliti ingin mengetahui bagaimana  minat konsumen dalam menggunakan ulang jasa pelayanan rumah sakit dan merumuskan strategi pemasaran yang tepat berdasarkan minat konsumen dalam menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Mitra Keluarga Husada.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Mengetahui bagaimana minat konsumen dalam menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Mitra Keluarga Husada.
  2. Mengetahui pengaruh sikap, norma subyektif dan kontrol keperilakuan terhadap minat konsumen dalam menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Mitra Keluarga Husada.
  3. Mengetahui strategi pemasaran berdasarkan minat konsumen dalam menggunakan jasa pelayanan rumah sakit, sehingga dapat dirumuskan strategi pemasaran yang tepat bagi Rumah Sakit Mitra Keluarga Husada.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai jawaban atas permasalahan yang muncul dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan studi pendahuluan menghasilkan 5 (lima) pilihan teratas atribut-atribut pelayanan RS Mitra Keluarga Husada yang menjadi dipertimbangkan dalam memutuskan untuk menggunakan ulang pelayanan tersebut yaitu (1) Pelayanan yang cepat (2) Harga/biaya yang terjangkau/relatif (3) Dokter dan petugas yang ramah (4) Lingkungan yang aman dan nyaman dan (5) Tempat/ruangan rumahsakit yang bersih.
  2. Minat responden pasien untuk menggunakan kembali jasa pelayanan RS Mitra Keluarga Husada tergolong cukup tinggi dengan rerata 4,415. Oleh karenanya minat ini harus dipertahankan dan ditingkatkan dengan memahami faktor yang mempengaruhinya.
  3. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa variabel Sikap Berperilaku dan Kontrol Keperilakuan yang Dihayati (diwakili oleh biaya yang tidak menjadi masalah/terjangkau) memberikan pengaruh yang positif dan signifikan. Sedangkan variabel Norma Subyektif sekalipun memperoleh skor yang rata-rata tinggi namun tidak berpengaruh signifikan bahkan negatif terhadap Minat Berperilaku.
  4. Strategi pemasaran yang dirasa tepat bagi RS Mitra Keluarga Husada untuk mempertahankan minat konsumen menggunakan ulang pelayanan yang diberikan adalah dengan memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk dan merancang strategi penetapan tarif (pricing/charging) yang bijaksana.

 

 


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Analisis Kinerja Perawat Dan Karakteristik Individu Di IRI

Contoh Tesis KESMAS ~ Analisis Kinerja Perawat Ditinjau Dari Beban Kerja Dan Karakteristik Individu Di Instalasi Rawat Inap Rsd Raden Mattaher Jambi

Antara Pasien Dan Perawat

Antara Pasien Dan Perawat

Latar Belakang Tesis :

 Apabila dilihat dari sisi pasien, pesien merasa ada sejumlah perawat yang sering lalai dalam menjalankan tugas, tidak jarang obat yang seharusnya diberikan menjadi terlambat, hal ini tentu saja merugikan pesien. Perawat sering menunjukkan wajah yang tidak ramah, bekerja tergesa-gesa, bahkan ada yang menunjukkan sikap marah dalam menghadapi pasien yang menuntut terlalu banyak, tidak sabar dan tidak menghargai pasien (wawancara dengan beberapa pasien, Oktober 2004).

Kasus-kasus tersebut di atas hanyalah sebagian kecil dari masalah-masalah yang sering dihadapi perawat dalam menjalankan profesinya. Banyak tugas dan tanggung jawab menuntut perawat dalam memenuhi dan menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan di tempat kerja. Ketidak mampuan perawat untuk memenuhi harapan dan tuntutan di tempat kerja akan mengakibatkan stress dan kinerja menurun. Stress kerja terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara tuntutan dengan sumber daya atau kemampuan yang dimiliki perawat untuk memenuhinya. (Tjondronegoro, 2004).

Perumusan Masalah

Dari uraian yang disampaikan pada latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan masalah penelitian adalah sebagai berikut : ”Apakah ada hubungan kinerja perawat terhadap beban kerja dan karakteristik individu?”

Kondisi Darurat

Kondisi Darurat

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :

  1. Mengetahui hubungan antara beban kerja perawat dengan kinerja perawat.
  2. Mengetahui hubugan antara karakteristik  individu perawat dengan kinerja perawat.
  3. Mengetahui bagaimana tingkat kinerja perawat di ruang rawat inap.

Kesimpulan

 Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab IV, daat ditarik kesimpulan untuk menjawab tujuan penilaian ini sebagai berikut :

  1. Terdapat hubungan positif bermakna pada aspek beban kerja (beban waktu, upaya mental) dengan kinerja pribadi (pikiran, perasaan, kemauan, tindakan), kecuali aspek beban stress terhadap aspek pikiran dan perasaan.
  2. Terdapat hubungan antara beban kerja (beban waktu, upaya mental) dengan kinerja profesi (pengetahuan, keterampilan, sikap profesional) berkorelasi positif, kecuali aspek upaya mental terhadap aspek pengetahuan.
  3. Karakteristik individu dengan kinerja perawat tidak ada hubungan, hanya karakteristik tempat kerja yang berhubungan secara signifikan.
  4. Kinerja perawat di bangsal bendah lebih baik dibandingkan perawat di bangsal penyakit dalam.

 

 


Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Contoh Tesis Ekonomi Pembangunan Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesempatan Kerja

Contoh Tesis Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesempatan Kerja Pada Kabupaten/Kota Di Propinsi Sumatera Utara

Latar Belakang Masalah 

Salah satu masalah yang cukup serius dihadapi Indonesia dewasa ini adalah masalah pengangguran. Pengangguran merupakan masalah ketenagakerjaan yang saat ini sudah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan. Jumlah penganggur dan setengah penganggur mengalami peningkatan. Sebaliknya pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan-pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal, dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang (Depnakertrans, 2004). Pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung meningkat dalam beberapa tahun, namun peningkatan tersebut belum dibarengi dengan pengurangan laju pengangguran. Umumnya jika terjadi pertumbuhan ekonomi, maka tenaga kerja yang meningkat sehingga laju pengangguran menurun atau berkurang.

Meningkatnya angka pengangguran disebabkan karena ketidakseimbangan pertumbuhan angkatan kerja dan penciptaan kesempatan kerja. Adanya kesenjangan antara angkatan kerja dan lapangan kerja tersebut berdampak terhadap perpindahan tenaga kerja (migrasi) baik secara spasial antara desa-kota maupun secara sektoral. Hal ini sejalan dengan pernyataan Todaro (2000) yang menjelaskan bahwa terjadinya perpindahan penduduk disebabkan oleh tingginya upah atau pendapatan yang dapat diperoleh di daerah tujuan. Kesenjangan upah/pendapatan yang besar antara desa atau daerah dan kota mendorong penduduk desa atau daerah untuk datang dan mencari pekerjaan di kota.

Rumusan Masalah

  • Bagaimana pengaruh Produk Domestik Regional Bruto terhadap kesempatan kerja pada Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Utara?
  • Bagaimana pengaruh Tingkat Bunga Kredit terhadap kesempatan kerja pada Kabupaten/Kota di Propinsi Sumatera Utara?
  • Bagaimana pengaruh Tingkat Upah terhadap kesempatan kerja pada Kabupaten/ Kota di Propinsi Sumatera Utara?

 

Metode Penelitian

Metode analisis yang dipergunakan adalah Metode Generalized Least Square (GLS) dengan Random Effek Model (REM).

 

Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa :

  • Variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten/Kota berpengaruh positif sebesar 76,38% dan signifikan,
  • Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) berpengaruh negatip sebesar 53,06% dan signifikan, dan
  • Tingkat Bunga Kredit berpengaruh negatif sebesar 7,29% dan tidak signifikan terhadap kesempatan bekerja pada kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Utara.

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Analisis Kebutuhan Dan Pengembangan Pelayanan Rawat Inap

Contoh Tesis Kesehatan Masyarakat ~ Analisis  Kebutuhan  Pelanggan Dalam  Pengembangan  Pelayanan  Rawat  Inap  Di  Puskesmas  Pijoan  Baru  Propinsi  Jambi

Tampilan Puskesmas Yang Sederhana

Tampilan Puskesmas Yang Sederhana

Latar Belakang Tesis :

Adanya dinamisasi dalam gerak langkah pembangunan mendorong diwujudkannya suatu upaya perbaikan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, seperti peningkatan fungsi puskesmas menjadi puskesmas rawat inap (Depkes RI, 1994). Pengembangan puskesmas membutuhkan perencanaan yang baik dan investasi yang besar. Sebelum pengembangan dilakukan, Dinas Kesehatan sebagai perencana pengembangan dapat mengakses banyak sumber informasi. Perencana seringkali mengabaikan satu sumber informasi, yaitu persepsi masyarakat. Tanpa memperhatikan persepsi masyarakat, perencana akan terus merencanakan program kesehatan tanpa input dari masyarakat yang terkena dampak program mereka. Program tersebut akan beresiko dan tidak akan mendapatkan hasil yang optimal (Palmer, 1997).

Daya dorong untuk peningkatan mutu dimulai dari pelanggan. Pelanggan menggambarkan produk dan layanan provider karena mereka merasakan kebutuhan dan harapan mereka dipenuhi atau tidak. Fokus pada kebutuhan dan harapan pelanggan diperkenalkan sebagai kunci peningkatan mutu oleh Deming, Juran, Crosby dan pencetus Total Quality Management (TQM) lain (Jablonski, 1992). Pihak yang menentukan mutu pelayanan adalah pelanggan. Karena itu perusahaan perlu mengetahui sampai sejauh mana tingkat kepuasan pelanggan dan kebutuhan pelanggan yang perlu dipenuhi oleh perusahaan (Umar, 2002).

Perumusan  Masalah

Dari gambaran yang telah diuraikan  pada latar belakang di atas,  untuk melakukan pengembangan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap guna meningkatkan mutu pelayanan puskesmas, maka perlu diketahui kebutuhan pelayanan kesehatan menurut masyarakat. Sehingga masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :

1.   Bagaimanakah kebutuhan pelanggan akan pelayanan kesehatan dalam upaya pengembangan pelayanan rawat inap di Puskesmas Pijoan Baru?

2.   Apakah ada perbedaan persepsi tentang kebutuhan pelayanan kesehatan dalam upaya pengembangan pelayanan rawat inap antara pelangggan internal dan pelanggan eksternal?

Tujuan  Penelitian

Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui kebutuhan pelanggan dalam upaya pengembangan pelayanan rawat inap di Puskesmas Pijoan Baru.

Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah :

1.   Untuk mengetahui persepsi pelanggan internal dan pelanggan eksternal tentang kebutuhan pelayanan kesehatan dalam upaya pengembangan pelayanan rawat inap.

2.   Untuk mengetahui persepsi pelanggan internal dan pelanggan eksternal akan pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan.

3.   Untuk mengetahui adanya kesenjangan antara kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelanggan eksternal dan internal mendukung pengembangan puskesmas rawat inap, yang disertai dengan perbaikan fasilitas air, pengadaan listrik, pembenahan gedung, dan peningkatan kualitas staf dengan pelatihan. Pengembangan pelayanan rawat inap ini disesuaikan dengan prioritas kebutuhan pelayanan kesehatan yaitu :

  1. Obat dan alat yang berkualitas.
  2. Pelayanan rawat inap.
  3. Pelayanan kesehatan umum.
  4. Pelayanan kesehatan anak.
  5. Pelayanan kesehatan mata.
  6. Pelayanan persalinan.
  7. Laboratorium lengkap.
  8. Obat dan alat yang lengkap.
  9. Pelayanan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan yang cepat dan tepat .
  10. Jadwal pelayanan dijalankan dengan tepat.
  11. Kemampuan dokter dan perawat untuk cepat tanggap menyelesaikan keluhan pasien.
  12. Pengetahuan dan kemampuan dokter dalam menetapkan diagnosa penyakit.
  13. Keterampilan para dokter perawat  dan petugas lainnya dalam bekerja.
  14. Tindakan cepat saat pasien membutuhkan.

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Tesis Pembelajaran biologi tipe group investigation dan tipe think-pair-share ditinjau dari aktivitas belajar siswa SMP

Tesis Pembelajaran Biologi – JUDUL Pembelajaran biologi Tipe Group Investigation  dan tipe think-pair-share ditinjau dari aktivitas  belajar siswa SMP (studi kasus pembelajaran biologi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 pada materi  sistem pencernaan manusia  sub pokok bahasan makanan)

 

Latar Belakang  Tesis Pembelajaran

Berdasarkan analisis empiris terhadap kondisi pembelajaran IPA di SD, SMP, SMA dan kajian terhadap tujuan, esensi dan peran kritis yang diemban oleh pendidikan IPA memerlukan suatu alternatif pemecahan   yang sangat mendesak untuk menjembatani pesoalan-persoalan seputar proses pembelajaran pendidikan IPA.   Artinya diperlukan upaya-upaya yang terprogram untuk mengubah dan memperbaiki   pola pembelajaran yang selama ini dikembangkan dan dilaksanakan oleh guru berdasarkan hasil kajian empiris dan pragmatis tentang realita yang terjadi di lapangan.

Standart Kompetensi dan Kompetensi Dasar merupakan kurikulum hasil refleksi pemikiran  dan  pengkajian  ulang  dari  kurikulum  yang  telah  berlaku  sebelumnya. Standart Kopetensi dan Kompetensi Dasar diarahkan untuk memberikan Ketrampilan dan Keahlian bertahan hidup dalam kondisi yang penuh dengan berbagai perubahan, persaingan,  ketidakpastian  dan  kerumitan  dalam  kehidupan.  Dalam  Implementasi Standart Kompetensi dan Kompetensi Dasar, telah dilakukan berbagai studi yang mengarah  pada  peningkatan  efesiensi  dan  efektifitas  layanan  dan  pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan.  Sebagai salah satu bentuk efesiensi dan efektifitas implementasi kurikulum dikembangkan berbagai model pembelajaran.

Kompetensi siswa didefinisikan sebagai pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai, serta pola pikir dan bertindak sebagai refleksi dari pemahaman dan penghayatan dari pengalaman  belajar  siswa.

Sedangkan  kecakapan hidup  (life  skill)  dikelompokkan menjadi kecakapan umum (personal dan sosial) dan kecapan khusus (akademis dan vokasinal).

Pengembangan pengalaman belajar diarahkan untuk mengakomodasi kedua aspek tersebut.  Dari sekian banyak model pembelajaran, salah satu yang relevan dengan konteks tersebut adalah model pembelajaran kooperatif. Pengembangan pembelajaran kooperatif memiliki potensi besar dalam mengakomodasi aspek kompetensi dan kecakapan hidup terutama aspek akademis dan sosial siswa.

Pembelajaran kooperatif dikembangkan dari pemikiran nilai-nilai demokrasi, belajar aktif, perilaku kerjasama dan menghargai pluralisme dalam masyarakat yang multikultural.   Secara historis model pembelajaran kooperatif bukanlah sesuatu yang baru.   Dalam bukunya Democracy and Education, pemikiran John Dewey (Arends, 1989:23 ) mengenai pembelajaran adalah aktivitas kelas sebaiknya mencerminkan kehidupan di masyarakat dan kelas dianggap sebagai laboratorium untuk mempelajari kehidupan yang sesungguhnya.   Pandangan pedagogis Dewey berimplikasi terhadap guru untuk menciptakan lingkungan belajar sebagai suatu sistem sosial yang memiliki ciri proses demokrasi dan proses ilmiah.

 

SMP  Negeri  1   termasuk  sekolah  yang  memiliki  prestasi  belajar    masih tergolong rendah.   Hal ini dapat dilihat  dari nilai hasil ulangan harian   khususnya pelajaran biologi tergolong masih rendah, misalnya rata-rata nilai hasil ulangan harian untuk  materi  Sistem  Pencernaan  Makanan  Pada  Manusia  :

  • tahun  pelajaran 2004/2005 sebesar 6,29;
  • tahun  pelajaran 2005/2006 sebesar 6,17;
  • tahun  pelajaran 2006/2007 sebesar 6,28;
  • tahun  pelajaran 2007/2008 sebesar 6,33 ( sumber dari arsip guru biologi ).

Untuk angka ketidak lulusan menunjukkan prosentase yang tergolong  tinggi,  misalnya

  • tahun pelajaran 2003/2004 sebesar 2,52  %;
  • tahun  pelajaran 2004/2005 sebesar  25,6  %,
  • tahun  pelajaran 2005/2006 sebesar 44,58%;
  • tahun  pelajaran 2006/2007 sebesar 7,26% ( sumber dari arsip sekolah ) .

Kasus seperti ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pada saat KBM guru sains sering mengalami permasalahan, terutama pada saat menyampaikan materi pelajaran melalui kegiatan kerja kelompok.  Dari hasil pengamatan dilapangan terungkap bahwa prestasi belajar siswa seringkali belum bisa memuaskan, aktivitas kelompok didominasi siswa tertentu (siswa yang pandai). Sehingga dinamika kelompok sangat minim, hanya siswa kategori pandai yang aktif melakukan percobaan, menjawab permasalahan dan mengkomunikasikan hasinya.   Sementara siswa lainnya hanya mengamati apa yang dilakukan oleh siswa pandai tersebut. Sehingga kreativitas dan potensi diri siswa kurang bisa dikembangkan. Pada hal tujuan dari seorang guru menerapkan kerja kelompok supaya masing-masing anggota kelompok dapat mengembangkan kreativitas, potensi diri siswa serta mendapat pengalaman belajar yang setara, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Setelah melihat dan mencermati permasalahan guru pendidikan sains dilapangan, selama ini masih bingung memilih model pembelajaran yang tepat untuk materi tertentu yang    pelaksanaannya       dilakukan   secara   kerja   kelompok,   sehingga    muncul permasalahan:  Dari  beberapa  Tipe  Pembelajaran  yang  telah  dikembangkan,  Tipe Pembelajaran manakah yang paling tepat untuk materi Uji makanan.

 

Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka peneliti dapat mengidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

  1. Pendekatan secara konvensional yaitu menggunakan metode ceramah lebih sering digunakan oleh sebagian guru sains, sehingga menyebabkan siswa cepat bosan atau jenuh dalam mengikuti kegiatan belajar.
  2. Guru sains masih mendominasi dalam proses pembelajaran, menyebabkan siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk ikut aktif dalam kegiatan KBM.
  3. Motivasi dan keaktifan siswa dalam belajar sains masih relatif rendah sebab menganggap pelajaran sains rumit dan sulit.
  4. Guru sains dalam menerapkan metode/strategi/model pembelajaran untuk mata pelajaran biologi pada materi tertentu masih kurang tepat.
  5. Aktivitas belajar siswa yang tinggi dapat meningkatkan prestasi belajar sains khususnya mata pelajaran biologi lebih baik.
  6. Ada pengaruh metode/strategi/model pembelajaran dengan aktivitas belajar siswa yang tinggi, sedang dan rendah terhadap prestasi belajar.

 

Pembatasan Masalah Tesis

Agar masalah tidak berkembang lebih jauh dan lebih terfokus,  maka perlu adanya batasan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Obyek penelitian adalah siswa kelas VIII  di SMP Negeri 1 tahun pelajaran 2008/2009.
  2. Mata pelajaran yang diteliti adalah pelajaran biologi kelas VIII semester ganjil, pada Materi Sistem Pencernaan Manusia sub Pokok Bahasan Makanan.
  3. Model  pembelajaran   yang   digunakan   adalah   kooperatif      yaitu   tipe   Group Investigation ( GI ) dan tipe Think-pair-share (T-P-S )
  4. Aspek   yang   diteliti   meliputi   aktivitas   belajar   dan   prestasi   belajar   (berupa kemampuan kognitif) biologi siswa.

 

Perumusan Masalah

Pada penelitian ini rumusan masalah dapat dibuat sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ( GI ) dan tipe Think-pair-share (T-P-S ) terhadap prestasi belajar biologi siswa?
  2. Bagaimana pengaruh aktivitas belajar siswa yang tinggi, sedang dan rendah terhadap prestasi belajar biologi siswa?
  3. Bagaimana interaksi penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ( GI ) dan tipe Think-pair-share (T-P-S ) dengan aktivitas belajar biologi terhadap prestasi belajar biologi siswa?

Tag : Tesis Pembelajaran Biologi

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi lengkap / tesis lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis Pendidikan yang lain

  1. Daftar Contoh Proposal Tesis Pendidikan Lengkap
  2. Daftar Contoh Tesis Pendidikan Matematika

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Alamat

IDTESIS SURABAYA

Jl Gayungan VIII No 3, Surabaya (Carefour A Yani maju 100 m, ambil kiri ke arah Polsek Gayungan/Telkom Injoko)

HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) & BBM : 5E1D5370